Selasa, 30 Maret 2010

Sepincuk Pecel Rukiyem Untuk Bung Karno


Mbok PinAda yang unik pada saat pemugaran makam Bung Karno di Blitar tahun 1979. Suguhan makan siang bukan aneka hidangan lengkap dalam formasi prasmanan, melainkan nasi pecel. Usut punya usut, semasa hidup, setiap pulang ke Blitar, Bung Karno tidak pernah lupa makan pecel. Bahkan, ketika ia sudah menjadi presiden pun, kebiasaan itu tidak pernah hilang.

Adalah Rukiyem, penjual pecel kegemaran Bung Karno. Tahun 1978, saat penulis Anjar Any bertandang ke Blitar, Rukiyem masih hidup, tetap dengan profesinya menjual nasi pecel di Jl. A. Yani No. 43 Blitar. Ia sendiri tinggal di Gebang I/10 Blitar. Warung pecel Rukiyem sangat terkenal. Terkenal dengan nama Mbok Pin. Saking terkenalnya, sebagian besar warga Blitar tahu warung pecel Mbok Pin, langganan Bung Karno dulu.

Bercerita bagaimana ia meladeni kedoyanan Bung Karno makan pecel, Mbok Pin bertutur antusias. Ia menceritakan, setiap Bung Karno ke Blitar, entah karena tugas atau pulang berlebaran, selalu memanggil Mbok Pin. Dan… manakala undangan dari Bung Karno sampai kepadanya, ia segera bersiap dengah penuh semangat.

Dipilihnya kebaya terbaru, dipilihnya kain batik terbaik, dan disiapkannya bahan-bahan pecel kesukaan Bung Karno, termasuk pisang kapok bakar. Setelah siap, ia bergegas ke Jl. Sultan Agung, tempat keluarga Bung Karno berkumpul. Manakala tiba saatnya acara makan pecel, semua perhatian tertuju ke Mbok Pin. Tak lupa, Bung Karno akan menyapa akrab penjual pecel yang ketika itu masih muda. “Wah… penjualnya cantik, kebaya dan kainnya juga baru….”

Melayang rasanya demi mendapat sapaan akrab sekaligus pujian dari Bung Karno, Presiden yang berlimpah cinta rakyatnya. Tak kuasa membalas sapaan akrab Bung Karno, Rukiyem muda hanya tersenyum-senyum malu, sambil tangannya sibuk menyiapkan sajian pecel dalam alas daun pisang. Rukiyem juga sudah hapal betul, daun-daun apa saja kesukaan Bung Karno, dan seberapa banyak takaran sambalnya.

“Beliau itu… kalau lagi pesen pecel, tidak sungkan-sungkan jongkok di depan saya… menunjuk ini-itu daun-daun mana yang ia kehendaki…. Saya bahagia sekali bisa meladeni beliau dan keluarganya. Sepertinya, tidak ada kebahagiaan lain yang lebih menyenangkan dibandingkan menyajikan sepincuk pecel kepada Bung Karno,” tutur Mbok Pin dengan rona berbinar-binar.

Usai acara makan pecel, Bung Karno memberinya uang Rp 700. Suatu jumlah yang sangat-sangat besar ketika itu, mengingat harga sepincuk pecel hanya beberapa rupiah saja. “Makanya, kalau mendapat panggilan Bung Karno rasanya seperti menang lotere… ,” ujar Mbok Pin sambil terkekeh.